Kaum Santri Zaman Nabi SAW
Penulis: Robingun Suyud El Syam Category: Novel, Pendidikan Publisher: GACEINDO Telah Terbit: 2023 ISBN: 978-623-96267-4-7 Laman: 242 Negara: Indonesia Bahasa: Indonesia Dimension: 14 x 21 File Size: 125.000 More DetailsBuku “Kaum Santri Zaman NAbi SAW “ ini mengupas tentang sejarah pondok pesantren tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan yang pondok pesantren hanyalah meninduk apa yang telah diprakarsi oleh Nabi SAW.
Aktivitas Muhammad SAW dalam wilayah pendidikan diawali setelah diangkat sebagai Rasul, namun secara sistematis di awali dari hijrah ke madinah. Langkah pertamanya mendirikan masjid multifungsi, diantaranya untuk kegiatan pembelajaran dan pembinaan umat. Dimasa itu, masjid digunakan sebagai pusat pendidikan untuk mengajak manusia pada keutamaan, kecintaan pada pengetahuan, kesadaran sosial, serta pengetahuan hak dan kewajiaban mereka terhadap Negara islam, yang pada dasarnya didirikan untuk mewujudkan ketaatan kepada syariat, keadilan, dan rahmat Allah Swt.
Dalam proses pembelajarannya, Rasulullah SAW menempatkan sebagian pengikutnya ( sahabat, santri ) di shuffah ( serambi masjid ), maka mereka disebut Ashahus-Shuffah ( Santri Pondok ), sebagian lainnya hanya datang saat pembelajaran, tetapi tetap pulang kerumah (santri kalong ). Shuffah sebagai semacam pemondokan bagi pendatang baru atau orang miskin, dan sahabat yang menghendaki pengajaran langsung dari beliau dengan intens. Tugas Rasulullah SAW sebagai seorang pendidik ( murabby ), dapat ditelisik melalui ungkapan dalam kitab suci al-Qur’an, yang jelas-jelas mengharapkan bagi seorang Rasul, tidak dapat dilepaskan dari pencerahan umat manusia dari ketidaktahuan atuan Tuhan (syariat) supaya hidup menjadi bermakna, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya (the meaningfull life). Pendidikan dalam konteks disini meliputi wilayah kajian yang bersifat lahir (bekal hidup didunia) maupun batin (akhirat), seperti disebut Q.S.Al-Jumu’ah [62]:2
Rasulullah SAW mengajar murid, (santri) dengan tuntas (mastery learning). Setiap anggota ditentukan tugasnya, dan di arahkan cara melaksanakannya. Selain itu, ditentukan tugas besarnya secara kolektif serta dilukiskan jalannya. Beliau menjelaskan kepada mereka segala sesuatunya dalam berbagai segi, dan menuntun mereka jalannya beberapa saat, lantas dibiarkan berjalan menuju Rabb-nya, sehingga ketika beliau wafat, apa yang diajarkan dan dididiknya tetap eksis. Pondok pendidikan yang otentik, merujuk akar sabda, “ Ulama adalah pewaris para Nabi”.
